Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 November 2013

ICT Penunjang Belajar Mandiri


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Revolusi teknologi masa kini, khususnya komputer dan internet telah mengubah cara pandang dan berpikir secara praktis dan efisien pada masyarakat kita khususnya dan dunia pada umumnya. Kita semua dihadapkan pada ambang gerbang transisi yang berbasis teknologi, dimana kecepatan penyampaian dan menangkap suatu informasi menjadi sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan. Pada era masyarakat yang dinamis atau menjelang era masyarakat dinamis yang kita harapkan dapat terwujud di tahun–tahun mendatang, perlu kiranya kita melakukan langkah persiapan secara optimal. Mengapa persiapan tersebut tidak dimulai dari sekarang juga? Ilmu pengetahuan saja tidak lagi cukup, sebab kita sudah berada di sekitar teknologi mobile, serba nir–kabel, semua menuntut multimedialitas. Siap atau tidak pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi/Technology Information & Comunication (TIK/ICT) harus dimulai sejakn sekarang.
Mendayagunakan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitian baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasi ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bersamaan dengan itu, pada generasi e–learning ini, kesadaran masyarakat akan proses belajar mengajar dengan menggunakan media ICT akan semakin besar.
Berangkat dari keadaan tersebut, saat ini juga merupakan waktu yang tepat untuk merangsang masyarakat agar mulai menggunakan teknologi dalam upaya pengembangan sumber daya manusia. Namun demikian, media pembelajaran berbasis ICT dan pemanfaatanya berupa e– learning masih belum banyak dikembangkan dan dimanfaatkan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu ditumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih memberi perhatian pada peningkatan kuantitas dan kualitas media pembelajaran berbasis ICT dan pemanfaatannya di Indonesia. Inovasi pembelajaran yang terus berkembang tiada henti menuntut kita untuk terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini diantaranya dengan menggunakan penerapan ICT untuk menunjang pembelajaran mandiri.
B.       TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memberikan gambaran pentingnya tekhnologi komputer sebagai sebuah inovasi untuk memperbaiki kualitas pendidikan
2.      Memberikan solusi untuk dunia pendidikan terkait mengenai inovasi pemanfaatan ICT untuk menunjang pembelajaran mandiri
3.      Mengetahui pentingnya ICT terhadap perkembangan dunia pendidikan yang semakin maju dan berkembang.
4.      Mengetahu adanya keterkaitan antara ICT  untuk menunjang pembelajaran mandiri yang mungkin selama ini pembelajaran beralngsung secara konvensional
5.      Memberikan sebuah inovasi baru bagi calon guru ataupun mahasiswa sebagai basic keilmuwan untuk diterapkan pada proses pembelajaran yang akan datang guna meningkatkan mutu dan taraf pendidikan.
































BAB II
ICT UNTUK MENUNJANG PEMBELAJARAN MANDIRI
A.  ICT sebagai Media Pembelajaran
Di Amerika, negara asal kemunculan internet, internet digunakan sebagai penghubung antar universitas. Kehadiran internet di Amerika identik dengan pengajaran dan penyebarluasan ilmu pengetahuan. Bagaimana dengan Indonesia ? lain halnya dengan Indonesia, kehadiran internet identik dengan Bisnis (ecommerce,ISP) dan entertainment. Komersialisasi komponen internet membuat biaya akses internet di indonesia membumbung enam kali lipat lebih mahal daripada di negara asal kemunculan internet. Yang menjadi pertanyaan, benarkah internet sangat penting dan mendukung dalam sektor pengajaran? Terkait dengan pola pengajaran konfensional yang berbasis pertemuan langsung/tatap muka, apakah mereka akan tergantikan dengan kehadiran internet?
Seiring pertambahan penduduk maka kebutuhan akan pengajaran juga
semakin besar. Sayangnya, peningkatan kebutuhan ini sering kali tidak diimbangi dengan peningkatan prasarana pengajaran,baik kuantitas maupun kualitas. Pertambahan jumlah pengajar tidak sebanding pertambahan kebutuhan yang ada. Ketika suatu instansi pengajaran membuka program/kelas baru. hal ini tidak diimbangi dengan penambahan jumlah pengajar. Akibatnya, waktu dan tenaga yang dialokasikan semakin terbatas. Secara otomatis peningkatan kualitas yang diharapkan tidak akan tercapai. Keterbatasan ruang dan waktu menjadi kendala utama bagi peningkatan kualitas pengajaran. Pertambahan jumlah peserta didik pada suatu lembaga pengajaran berpotensi mengurangi kualitas interaksi antara pengajar dan peserta didik sehingga hasil yang maksimal, dalam rupa pengajaran berkualitas, semakin jauh dari harapan.
Pemanfaatan internet dalam dunia pengajaran akan membantu dunia pengajaran meningkatkan kuantitas peserta didik. Akan semakin banyak peserta didik yang dapat direngkuh melalui internet. Selain peningkatan kuantitas, hal yang sama pun berlaku pada pada sisi kualitas. Seperti disinggung diatas, peningkatan kuantitas peserta didik dapat mendegradasi kualitas pengajaran yang diperolehnya. Pengadaan teknologi internet, dapat menjadi salah satu antisipator terhadap kemungkinan tersebut. Titik sentral pengajaran adalah hubungan antara pengajar dan peserta didik.
Pada metode pengajaran konvensional, hubungan antara pengajar dengan peserta didik sangat erat, yang erat ini melibatkan fitrah manusia sebagai manusia yang butuh sentuhan perasaan (empati) dari pengajar dalam transfer pengetahuan. Oleh karena itu kualitas pengajaran konfensional dikenal sangat baik dan mampu menghasilkan manusia yang bukan hanya pandai, melainkan juga terdidik. Kita mengenal hubungan ‘santri –kiai’, lalu sistem ‘usrah’ (seperti pada Universitas Islam Antar Bangsa) dimana profesor duduk melingkar bersama pera peserta didik dan asisten, dan juga sistem, ‘talk and chalk’ pada universitas – universitas terkemuka di dunia. Sistem pengajaran semacam itu memang sangat baik. Akan tetapi, seiring peningkatan jumlah peserta didik, haruskah kita tetap
bertahan pada pola lama tanpa melibatkan teknologi di dalamnya?
Teknologi internet mengemuka sebagai media yang multirupa. Komunikasi melalui internet bisa dilakukan secara interpersonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara massa, dikenal one to many communition (misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seterti pada metode konvensional dengan adanya aplikasi teleconference. Berdasarkan hal tersebut maka internet sebagai media pengajaran mampu mengadakan karakteristik yang khas, yaitu
{1} sebagai media interpersonal danmassa;
{2} bersifat interaktif;
{3} memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun ansinkron {tunda}. Karakteristik ini memungkinkan peserta didik melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas jika dibandingkan dengan hanya menggunakan media konfensional. TI menunjang peserta didik yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap bisa meninkmati pengajaran. Metode talk and chalk, nyantri, usrah dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, (mailing list). Metode ini mampu menghilangkan gap antara pakar dan peserta didiknya. Suasana yang hangat dan nonformal pada mailing list ternyata menjadi cara pembelajaran yang efektif seperti peda metode usrah.
Berdasarkan uraian diatas, bisa dikatakan bahwa internet bukanlah pengganti sistim pengajaran. Kehadiran internet lebih bersifat suprementer dan pelengkap. Metode konvensional tetap diperlukan, hanya saja bisa dimodifikasi kebentuk lain. Metode talk and chalk mengalami modifikasi menjadi online conference. Metode nyantri dan usrah mengalami modifikasi menjadi diskusi melalui mailling list.
B.    Aplikasi ICT sebagai penunjang belajar
Internet menyediakan banyak kemudahan bagi dunia pengajaran. Sebenernya, suatu institusi yang akan mengadakan pengajaran online tidak perlu susah-susah membangun perangkat lunak untuk e-learning yang dibutuhkannya. Telah tersedia berbagai pilihan aplikasi yang bisa dimanfaatkan demi memperlancar jalannya proses pengajaran. Pilihan aplikasi yang tersedia sangat beragam, mulai yang gratis (di bawah open source project) hingga komersial (dibawah vendor tertentu). Ketika memutuskan utuk menerapkan distance learning, yang harus dilakukan pertama kali adalah memahami model CAL + CAT (Computer Assisted Learning+Computer Assisted Teaching) yang akan diterapkan. Beberapa model CAL + CAT, diantaranya adalah :
  1. Learning Management System (LMS). LMS merupakan kendaraan utama dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kumpulan perangkat lunak yang ada didesain untuk pengaturan pada tingkat individu, ruang kuliah, dan institusi. Karakter utama LMS adalah pengguna yang merupakan pengajar dan peserta didik, dan keduanya harus terkoneksi dengan internet untuk menggunakan aplikasi ini.
  2. Computer Based Training (CBT) / Course Authoting Package (CAP). CBT adalah perangkat lunak online untuk proses pembelajaran secara local pada masingmasing computer peserta didik. Perangkat lunak ini juga bias diterapkan secara online. Kebanyakan pengguna menggunakannya secara offline karena faktor bandwith yang dibutuhkan CBT untuk memproses large video. CAP adalah perangkat lunak untuk mengembangkan lunak CBT.
  3. Virtual Laboratory. ViLAB adalah lingkungan dimana peserta didik dapat memperoleh pengalaman praktis secara maya/virtual . ViLAB umumnya dipasang secara offline pada masing-masing komputer peserta didik, namun sat ini sudah banyak aplikasi online.
C.    Aplikasi ICT untuk Mendukung Belajar Mandiri
  1.  Digital Library
Digital Library menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk mengakses resource-resource elektronik dengan alat yang menyenangkan pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Pengguna tidak lagi tertarik terhadap operasional secara fisik jam perpustakaan dan tidak dapat berkunjung keperpustakaan secara fisik untuk mengakses resource resourcenya. Disinilah Digital Library sebagai alat untuk memfasilitasi dan memecahkan atas keterbatasan-keterbatasan tersebut. Digital Library belum didefinisikan secara jelas untuk dapat dijadikan standar atau acuan dalam dunia pendidikan. Beberapa kata seperti “Electronic Library” atau “Virtual Library” yang merupakan sinonimnya mungkin lebih dikenal dan sering digunakan. Assotiation of Research Library menyandarkan pada Karen Drabenstott’s Analytical Review of the Library of the Future [Drabenstott] atas inspirasinya dalam mendefinisikan Digital Library, Drabenstott menawarkan 14 definisi yang dipublikasikan antara tahin 1987 dan 1993. Secara umum perbedaan-perbedaan definisi tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut :
ü  Digital Library memerlukan teknologi untuk menghubungkan banyak resource, perpustakaan dan pelayanan informasi.
ü  Hubungan beberapa Digital Library dan pelayanan informasi adalah transparan kepada pengguna akhir.
ü  Tujuannya adalah akses secara universal dan pelayanan informasi.
ü  Koleksi Digital Library adalah tidak terbatas terhadap dokumen, tetapi berkembang pada digital artifacts yang tidak dapat di sajikan atau distribusikan dalam format tercetak.
2.    Video on Demand
Video on Demand menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk mengakses resource-resource digital berupa video dengan alat yang menyenangkan pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Video ini biasanya berupa video pembelajaran, yang dapat diakses sesuai kebutuhan, dan didistribusikan secara streaming melalui jaringan komputer.
3.    Wikipedia
Wikipedia menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk berkolaborasi menyusun ensiklopedia. Dengan wikipedia pengguna dapat membangun naskah secara kolaboratif, hingga dapat menjadi ensiklopedia di Internet.
4.    Blog
Blog menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk membuat tulisan, baik formal maupun informal, seperti buku harian. Blog adalah catatan seseorang yang dibuat untuk konsumsi publik. Dengan blog ini kita bisa sharing ilmu pengetahuan.
5.    Mobile Learning
Mobile Learning merupakan perwujudan elearning dalam perangkat bergerak, seperti handpone/telepon genggam. Dengan mobile learning kita bisa belajar melalui handpone kita. Materi dituangkan dalam modul untuk handpone.
6.    Materi online pendukung lainnya.
Selain perpustakaan digital yang menyajikan sumber ilmu yang dimiliki oleh institusi pengajaran, peserta didik juga harus diberi link ke sumber informasi lannya. Situs-situs pendukung yang sekiranya mampu meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi yang ada perlu disajikan dalam aplikasi distance learning, peserta didik juga harus diberikan kesempatan untuk bisa mengisikan link pada aplikasi distance learning sehingga peserta didik lain bisa memperoleh manfaat yang lebih progresif. Dengan keterlibatan peserta didik, diharapkan tumbuh loyalitas untuk saling berbagi informasi sehingga bisa membantu peserta didik lain dalam memperoleh manfaat dari distance learning ini.
D.      Konsep Belajar Mandiri
Belajar mandiri mengedepankan bagaimana menemukan sendiri setiap pengalaman-pengalaman yang di dapat, baik melalui pegajaran atau autodidak. Belajar mandiri menuai sebuah pembelajaran yang bermakna dan lebih bertahan lama untuk diingat. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran mandiri setiap pengalaman yang didapatkan murni merupakan sebuah aplikasi yang muncul pada tahapan penemuan, sehingga pengalaman tersebut dapat dijadikan sebagai referensi untuk melanjutkan penelitian dan pembelajaran selanjutnya.
Belajar mandiri lahir dari sebuah teori belajar yang di paparkan oleh seorang ahli pendidikan yang tercantum dalam teori Bruner yang menyatakan bahwa pengetahuaan akan bertahan lama ketika seorang pelajar menemukaan sendiri dari setiap pemecahan masalah yang dia temui. Hal ini, menunjukkan adanya sebuah indikasi bahwa pembelajaran yang dilalui lewat pembelajaran mandiri mendukung aspek ingatan yang sangat baik. Namun, terlepas dari hal itu tidak menutup kemungkinan setiap pembelajaran yang di adopsi membutuhkan sebuah media dan metode untuk penerapan konsep yang akan mereka dapatkan. Penerapan konsep tersebut dapat mereka temui melalui berbagai media yang sering mereka gunakan.
E.  Hubungan ICT terhadap Penunjang Belajar Mandiri
Sebagaimana kita ketahui bersama ketika di bagian awal telah dipaparkan berbagai keunggulan ICT serta aplikasi yang menyertainya bisa kita simpulkan bahwa keterkaitan yang erat antara ICT terhadap penunjang belajar mandiri mempunyai hubungan yang sangant terkait. Hal ini jelas kita ketahui sebagai mana teori belajar yang diungkapkan oleh Bruner mengenai proses belajar yang bertahan lama. Pengalaman yang didapat tentu membutuhkan sebuah proses. Proses yang dimaksud disini adalah langkah dan cara kerja untuk memperoleh sebuah pembelajaran yang lebi mapan. Selain itu penggunaan internet yang semakin marak diminati oleh kalangan pelajar membuat mereka memiliki ketertarikan untuk menjelajah berbagai situs yang ada terutama terkait dengan pendidikan. Hal ini merupakan langkah pembelajaran yang nantinya akan memberikan pengalaman yang baru kepada siswa.
Berbagai fasilitas yang bisa kita gunakan melalui ICT memudahkan mereka dalam memperoleh berbagai informasi dan berita terkini terkait tentang keilmuwan, sosial dan budaya yang mungkin sekarang sedang marak terjadi. Kelebihan ini tidak menutup kemungkinan sedikit banyaknya akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang dunia luar dan tidak terpaut pada dalam saja.

BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas kita dapat mengambil sebuah simpulan mengenai ICT dalam menunjang pembelajaran mandiri yaitu sebagai berikut :
  1. ICT mengedepankan sebuah layanan berbasis tekhnologi yang memungkinkan seluruh aktivitas pelajar dapat berkembang wawasannya melalui berbagai media yang tersedia.
  2. Berbagai layanan dan aplikasi yang terdapat pada ICT mendukung siswa untuk lebih kreatif dalam memecahkan setiap permasalahan yang mereka temui pada proses pembalajaran yang berlangsung secara konvensional
  3. Keterkaitan yang erat antara ICT terhadap konsep belajar mandiri membuat kita semakin yakin bahwa pengetahuan yang didapat akan bertahan lama ketika peserta didik mampu menemukan sendiri setiap permasalahan yang mereka hadapi melalui penjelahan berbagai situs penting sebagai penambah wawasan yang terdapat pada berbagai aplikasi pendukung dari ICT.
  4. ICT yang memuat berbagai macam aplikasi pendukung dapat menjadikan sumber pembelajaran mandiri bagi setiap peserta didik
B.       SARAN
Setelah membaca dan mehamami makala ini, disarankan :
1.      Mencari tahu lebih lanjut berbagai informasi terkait penerapan ICT untuk menunjang pembelajaran mandiri kepada tim ahli, dosen atau diskusi panel mahasiswa guna memperluas cakrawala untuk perbaikan penerapan kedepannya.
2.      Selalu berinovasi, mendalami, memperbaiki dan mengaplikasian setiap inovasi pembelajaran yang berbau ICT pada proses pembelajaran dan mengevaluasi hasil penerapan yang telah dilakukan.
3.      Mencari solusi untuk penerapan yang lebih lanjut dan lebih baik melalui berbagai sumber baik dari buku bacaan, ahli pendidikan, serta internet.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar